Minggu, 22 Desember 2019

Hari Ibu, Komunitas Generasi Milenial dan Pondok Pesantren Minhaajurrosyidiin Gelar Karya Sosial



Liputan6.com, Jakarta - Di Indonesia, Hari Ibu diperingati masing-masing tanggal 22 Desember. Memberikan perkataan atau kado untuk ibu adalahtradisi yang biasa dilaksanakan kebanyakan orang Indonesia guna merayakan Hari Ibu. Berbeda dengan Komunitas Sosial Generasi Milenial dan anggota BEM STAIMI Minhaajurrosyidiin dari Ponpes Minhaajurrosyidiin yang melangsungkan karya sosial di Hari Ibu bertema “Lovely Day” atau Hari yang Indah.

Para relawan wanita memperlihatkan bahwa wanita dapat berperan aktif dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Hal ini cocok dengan tema Hari Ibu tahun 2019, yakni “Perempuan Berdaya, Indonesia Maju”.

Karya sosial ini dipenuhi dengan khitanan massal cuma-cuma di Pondok Pesantren Minhaajurrosyidiin, Lubang Buaya, untuk seratus anak umur 7-15 tahun diwarnai dengan sekian banyak  hiburan untuk peserta khitan, pada Minggu, 22 Desember 2019. Hadir dalam acara itu Lurah Lubang Buaya H. Fatoni, S.H.; Camat Cipayung Fajar Eko Satrio, . Sos., M. Si.; dan Sekretaris Wali kota Jakarta Timur Drs. H. Usmayadi, M. Si.

Selain tersebut juga muncul ketua Pondok Pesantren Minhaajurrosyidiin sebagai tuan lokasi tinggal Ir. K. H. Moh. Asy’ari Akbar, M.M. dan Rm. Johan Ferdinand Wijshijer selaku Pastor Paroki Lubang Buaya, Gereja Kalvari.

Para dokter dari Klinik Kalvari, Klinik Kampung Sawah-Servatius, Puskesmas Lubang Buaya, dan Pondok Pesantren Minhaajurrosyidiin turut mendukung pekerjaan ini. Sedangkan Komunitas Generasi Milenial, menemani peserta khitanan mulai dari pencatatan sampai pemberian obat.

Mereka pun memberi pendidikan tentang guna khitan secara medis maupun agama. Orang tua juga bahagia menyaksikan anak-anak mereka mendapat peluang khitan dan merasa terbantu secara ekonomi.

Desy Nicola memperlihatkan bahwa sebagai perempuan ia mendapatkan peluang untuk mengomandoi gelaran karya sosial ini, di tengah aktivitasnya sebagai berpengalaman nuklir. Hal serupa dialami oleh Ewi, relawan perempuan dari Komunitas Generasi Milenial.

“Komunitas Generasi Milenial angkatan kesatu sukses mengusulkan rekreasi bareng penyintas kanker dan gangguan hati kronis. Saya senang kini angkatan kedua, yang mempunyai nama Cahaya Pelita ini bisa kolaborasi bareng Pondok Pesantren Minhaajurrosyidiin mengadakan khitanan massal,” ucap Ewi.

“Terjun dalam karya sosial menajamkan kepekaan dan rasa cinta yang besar pada kehidupan sampai-sampai kegembiraan sesama bisa menjadi semangat hidup seseorang,” tutur perempuan tangguh ini di tengah kesibukannya sebagai guru.

Ir. K. H. Moh. Asy’ari Akbar, M.M. mengungkapkan respon positifnya.“Saya menyambut baik pekerjaan ini sebab kita menolong warga yang secara ekonomi terkendala guna menjalankan perintah agama. Kegiatan ini bukti nyata hadirnya kerukunan beragama yang tidak jarang kali terjaga di Indonesia.”

Hal senada pun diungkapkan Romo Johan Ferdinand Wijshijer sebagai motivator komunitas Gen-M ini. ”Saya paling senang. Ini mendahului toleransi, adanya persahabatan dan peluang antara pihak gereja dengan pondok pesantren guna bekerja sama,” serunya bangga. Ia bercita-cita pada 2020 mendatang, kerja sama baik ini bisa terjalin kembali.

Ayutasari, perwakilan BEM juga energik terlibat dalam acara ini. “Ini urusan baru bikin aku, kendala baru menyiapkan hiburan guna anak-anak bareng dengan rekan baru juga,” ungkapnya senang.

Aksi sarat empati ini pun memberi kebahagiaan personal untuk semua relawan supaya terpacu melakukan lebih tidak sedikit lagi pekerjaan sosial untuk sesama.

Load comments